Kamis, 26 Desember 2013
Senin, 09 Desember 2013
RINDU BISU
![]() |
Quiet |
Jiwa ini menjerit,, rindu
senyap.
Kadang menangis,, mengenang, membayang
tertahan.
Aku menoleh,, tak ada ,
mendongak,,kabut ,
tertunduk.
Mata ini tuli,
mulut ini buta,
telinga ini gagu,
rindu ini bisu.
Aku mengeja sejengkal, sehasta,
selangkah,
berlari, tertabrak,,
ah,, jauh!!
atau terhalang tembok!?
Terbata.
(to be continued..)
Senin, 21 Oktober 2013
Road To Success, Be Mawapres
Menjadi manusia segudan prestasi adalah dambaan semua orang. Dengan
segudang prestasi-prestasi itulah manusia merasa bahwa dirinya telah meraih
kesuksesan. Mungkin akan demikian jika kita memandang kesuksesan adalah sebuah
keberhasilan dalam hal mencapai sesuatu saja. Jika melihat dari pandangan
tersebut maka sebenarnya sejak lahir manusia telah meraih banyak kesuksesan
mulai ia diciptakan oleh penciptanya (Al-Khaliq) sampai bagaimana ia menjalani
kehidupan.
Terlahir menjadi manusia adalah sebuah kesuksesan, karena kita telah
mampu mengalahkan seluruh makhluk yang ada di dunia ini untuk mengurusi bumi,
serta kita telah mampu mengalahkan jutaan sel sperma yang bersaing kekat
mencapai telur ibu kita, sehingga terlahirlah kita. Bagi anak SD, mereka telah
sukses/berhasil lulus TK. Bagi yang telah duduk di bangku SMP, mereka telah
berhasil sukse/berhasil lulus SD. Bagi yang duduk di bangku SMA, dia telah
sukses/berhasil lulus SMP, begitu juga dengan kita mahasiswa yang telah
sukses/berhasil lulus SMA dan dalam persaingan ketat agar bisa masuk PTN. Atau
kesuksesan-kesuksesan lain yang saat ini menjadi ukuran setiap orang dalam
menilai berhasil tidaknya seseorang, misalkan berhasil meraih medali dalam
berbagai ajang perlombaan, berhasil menjadi orang dengan kedudukan/jabatan
tertentu, dsb. Semua hal tadi adalah keberhasilan2 yang dicapai manusia dalam
kehidupan.
Melihat fakta di atas, sebenarnya kesuksesan dunia adalah sesuatu yang
bisa dipandang relatif oleh siapapun. Sehingga, kita tidak bisa mengukurnya
dari satu keberhasilan saja, maka sebenarnya disinilah perlu dibangun satu
persepsi dan pandangan tentang sukses itu sendiri.
Sukses, sebenarnya merupakan suatu proses keberhasilan dalam aspek dunia
dan akhirat. Yaps,,..sobat, memang kurang tepat rasanya jika sukses itu hanya
kita ukur dari keberhasilan dunia saja. Mengapa demikian? Dunia, merupakan
sesuatu yang sangat fana dan ada batasnya, sementara akhirat adalah sesuatu
yang langgeng, abadi, dan hakiki. Akan sangat merugikan diri kita, jika kita
hanya tersibukkan pada upaya-upaya meraih kesuksesan dunia, disamping memang
pandangan terhadap kesuksesan dunia oleh masing-masing orang berbeda-beda. Maka
disinilah kemudian kita harus meletakkan dasar dari segala kesuksesan itu
sendiri yaitu bagaimana Allah (al-Khalik) memandang. Sukses yang sebenarnya
adalah apabila kita telah berhasil menuai kenikmatan surga di akhirat kelak.
Maka apapun yang menjadi target-target keberhasilan kita di dunia, kita harus
menjadikannya mampu menghantarkan kepada kesuksesan akhirat kelak. Segala
proses yang kita jalani di dunia ini haruslah disesuaikan dengan rambu-rambu
dari Allah agar kesuksesan hakiki dan abadi itu bisa kita raih.
Kita pun bisa berkaca kepada manusia-manusia sukses terdahulu yang sudah
menorehkan segudang prestasi-prestasi gemilang dalam memperjuangkan Islam,
memberikan pengaruh besar kepada dunia sampai saat ini, yang dengannya mereka
mampu meraih kesusesan akhirat. Seperti rasul kita Muhammad SAW, Umar bin
Khattab, Abu Bakar As-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Saad bin Mu’adz, Ibnu sina,
Ibnu Al-Haitsam, Maryam Al-Asturlabi, dll. Merekalah mutiara-mutia Islam dan
dunia yang sangat kita rindukan perjumpaannya.
Nah, sobat bersegeralah untuk mengetahui rambu-rambu
meraih sukses dari Allah, tentu itu hanya bisa kita dapat dari belajar Islam
yang terus-menerus bersama-sama dengan orang-orang yang se-visi dengan kita.
Kalau tidak sekarang, kapan lagi???
Intelektual Muda Generasi Cemerlang
Generasi
muda adalah tonggak estafet peradaban suatu bangsa. Ahh,, kata-kata yang sudah
di luar kepala semua orang. Namun, harapannya itu tidak sekedar menjadi
kata-kata bijak pelengkap LKS-LKS Bahasa Indonesia anak SMA saja, atau sekedar
senjata pamungkas para orator2 kelas kencur. Bagaimanpun juga, generasi muda
sampai kapanpun adalah orang2 muda berusia muda yang akan menggantikan mereka yang
sudah tua. Merekalah yang akan mencetak peradaban, mau dibawa kepada kondisi
keemasannya atau malah membawanya jatuh ke jurang kegelapan dan kehancuran.
Semua orang pasti mengharap terwujudnya peradaban emas, bergelimang prestasi
dan kesejahteraan yang hakiki yang dicetak oleh para generasi Intelek, berkepribadian
istemewa yang berintegrasi pada nilai-nilai kebenaran.
Kalau
kita melihat sekilas kondisi saat ini, bisa kita temukan bagaimana gambaran
para generasi yang tak menampakkan tanda2 pembawa harapan semakin membaiknya
kondisi negeri ini. Bagaimana tidak, tidak bisa dipungkiri subyek berbagai
problem bangsa ini sebagian besar karena ulah para generasinya yang notabene
mereka adalah para remaja sebagai output dari pendidikan jenjang SMP, SMA,
Mahasiswa, dan sejenisnya. Tawuran antar pelajar, pergaulan bebas yang berimbas
pada depresi; KTD; aborsi; munculnya berbagai penyakit kelamin; dll, narkoba,
kerusuhan, dan berbagai kasus sosial lainnya. Tentu kondisi ini bukanlah yang
kita harapkan.
Memang,
tidak sedikit mereka yang telah menorehkan karya-karya inovatif dan kreatif,
namun itu semua tidak lebih hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga dan
kelompoknya. Maka, tidak heran jika kondisi masyarakat pun tidak pernah berubah
walaupun semakin banyak para intelektual yang melahirkan karya setiap tahunnya,
bahkan masyarakat semakin terpuruk. Bayangkan saja, berapa banyak perlombaan2
tingkat Nasional maupun Internasional yang telah dimenangkan anak negeri,
tugas-tugas akhir yang tercipta dari output perguruan tinggi, tesis, disertasi,
berbagai hasil penelitian, dan sebagainya telah mampu memberikan pengaruh
signifikan terhadap perbaikan bangsa ini? Jawabannya tentu “Tidak ada”, tak
lebih semuanya hanya tertumpuk menjadi buku lusuh di rak2 perpustakaan atau di
tumpukan2 loakan.
Orientasi
belajar mereka pun tak menggambarkan keinginan besar menuju perubahan yang
hakiki. Ketika kuliah hanya sekedar untuk mendapatkan pekerjaan di masa depan,
dan menjamin hidup keluarga agar tak pernah kekurangan materi. Ketika belajar
hanya untuk mencari nilai bagus kendati pun dengan cara-cara yang menyimpang.
Maka kejujuran, kehormatan, dan nilai-nilai kebenaran lainnya tidak pernah ada
dalam jiwa para generasi muda, dan saat itulah pendidikan sudah kehilangan
tujuannya yang hakiki.
Intelektual,
sosok yang sangat diharapkan oleh bangsa dan masyarakat sangat dinantikan
kiprahnya untuk melepaskan bangsa ini dari keterpurukan. Intelektual yang
peduli, bukan individualis. Intelektual yang peka, bukan yang membebek dan
berkiblat pada Barat. Mahasiswa termasuk salah satu di dalamnya. Tentu, saat ini
yang diharapkan dari mahasiswa tidak hanya segudang prestasinya, namun bangun
dan bergerak dengan membawa solusi yang membangun dan solutif bagi setiap
permasalahan bangsa ini. Perubahan yang berlandaskan pada keimanan kepada Allah
dan keintelektualitasan, bukan modal nekat semata. Sehingga mahasiswa islam pun
harus bergerak dengan sebuah landasan ideologis agar tidak menjadi mahasiswa
pragmatis yang menyebabkan kreatifitas berpikir mahasiswa terbatasi dalam
pragmatisme pula.
Sudah saatnya intelektual mahasiswa tersadar bahwa sistem
pendidikan pragmatis yang dilahirkan dari penerapan ideology kapitalisme adalah
musuh bersama yang menghancurkan kualitas generasi bangsa dan matinya peran
mahasiswa. Dan tidak ada cara lain, sistem pendidikan pragmatis hanya akan
tergusur dengan tegaknya ideology islam (khilafah) di muka bumi sebagai solusi
sistemik atas permasalahan bangsa. Dan hanya dengan khilafah Islam lah Generasi
Cemerlang akan terlahir dan intelektual2 muda berkualitas akan bermunculan..
Let’s Get The Beat
Sobat, pernah mendengar kata irama nggak ??
Yaps,,siapa sih yang nggak kenal kata itu. Kata yang bisa dirasakan oleh banyak
orang, khususnya para remaja. Bagaimana tidak, dengan iramalah kata-kata biasa
menjadi begitu istimewa, menjadi berbagai macam alunan musik yang enak untuk
didendangkan. Kalo kata Jamalus_ahli soal musik_, irama adalah urutan rangkaian
gerak yang menjadi unsur dasar musik dan tari. Irama juga merupakan gerak musik
yang berjalan teratur yang tidak tampak dalam lagu, tetapi dapat dirasakan
sesudah lagu dialunkan.
Nah,, bicara soal musik, sobat semua pasti pada
suka kan?? Siapapun, khususnya remaja pasti menyukai yang satu ini. Bagi mereka
musik adalah teman dikala sedih, senang, dan apapun. Musik bisa menjadi teman
belajar, santai, teman dikala sepi, dan bahkan aktivitas mereka tak lepas
darinya. Musik bisa mengekspresikan perasaan manusia di segala kondisi. Dan itu
semua tidak bisa lepas dari peran irama dan polanya dalam membentuk alunan musik,
sehingga kenallah kita dengan musik berirama pop, jazz, dangdut, keroncong,
rock, dan sebagainya.
Namun, pernahkan sobat berfikir bahwa hidup kita
juga ibarat sebuah alunan musik yang terbentuk dari irama? Masing-masing dari
kita punya pola irama hidup yang kita ciptakan sendiri, yang darinya akan
tercipta berbagai alunan musik kehidupan yang akan kita jalani di dunia ini.
Maksudnya apa? Ada berbagai ragam dan corak sifat serta watak manusia di dunia
ini, sebagimana ragam dan corak irama musik. Maksudnya apa? Ada manusia yang
berirama pop, dimana ia menjalani kehidupannya dengan begitu syahdu dan
teratur, dalam hal ini ia adalah tipe penyabar, dan segalanya selalu diambil
baiknya. Ada manusia dengan tipe datar-datar saja dalam menjalani kehidupan, ia
bisa santai dalam kondisi apapun. Ada pula manusia tipe keroncong, dia menjalani
kehidupan dengan begitu disiplin. Ada juga manusia tipe dangdut, dimana ia
menjalani hidupnya dengan penuh canda tawa, seakan tidak pernah ada kesedihan
yang melanda. Atau mungkin tipe rock, yaitu mereka yang berwatak keras. Dan
apapun lah yang bisa sobat tafsirkan sendiri. Pertanyaannya adalah, tipe apa
yang sobat pilih? Apakah pop, jazz, dangdut, keroncong, jazz, atau sobat ingin
menciptakan musik dengan irama lain yang berbeda?
Sobat, menjalani hidup adalah hal yang tidak bisa
kita hindari lagi, sehingga memang kita harus mampu menentukan irama kehidupan
yang dengannya kita bisa berdendang merdu menjalani kehidupan. Tanpa rasa
resah, takut, khawatir, ragu, dan perasaan tidak enak lainnya.
Tanpa kita harus memilih salah satu dari jenis
irama tadi, ternyata ISLAM mampu mengkombinasi berbagai jenis irama menjadi
sebuah musik spektakuler, unik dan tak pernah tercipta sebelumnya. Kita bisa
memilih pop, rock, dangdut, keroncong, dan jazz sekaligus. Bagaimana bisa? Ya,
ISLAM tak pernah menyuruh kita menjadi seseorang dengan hanya memiliki satu
jenis sikap/sifat saja. ISLAM bahkan menyuruh kita untuk sabar, marah, penuh
canda, disiplin, tenang, dan sifat lainnya dengan porsi dan pada tempatnya
masing-masing. Ambillah satu contoh, kita wajib marah ketika orang kafir
menghinakan Islam, Allah, dan Nabi SAW, bukan malah bersikap sabar. Berbeda
dengan sabar, kita harus sabar ketika ada seseorang yang masih belum paham
sedang mencela keislaman kita. Kita juga boleh bercanda dan bersenda gurau
dengan saudara2 kita sesama muslim karena suatu kebahagiaan. Atau kita harus
serius dalam setiap langkah2 yang akan kita tempuh untuk perjuangan menegakkan
Islam. Sehingga dengan porsi dan tempat masing-masing itulah akan tercipta
irama kehidupan kita yang unik sesuai dengan koridor ISLAM.
Sobat, menjadi musisi yang ahli itu pasti kita
juga butuh guru, yang akan senantiasa membimbing kita, membina dan mengarahkan
tiap langkah kita agar tercipta alunan musik kehidupan yang dahsyat. Dan akan
lebih lengkap jika kita berkolaborasi dengan saudara-saudara muslim kita yang
lainnya. maka sudah sewajarnyalah kita memang tidak bisa berubah sendirian,
karena akan sangat susah dan lama. Makanya, senantiasalah kita selalu bersama
dengan orang-orang shalih yang tak bosan-bosan menasihati, mengajak kepada
kebaikan, dan belajar bersama untuk menjadi musisi kehidupan yang handal sesuai
apa yang Allah Ridhai. Sehingga dengannya akan tercipta dentuman2 dan alunan
merdu yang akan kita dendangkan dengan merdu di kehidupan ini, bahkan juga oleh
banyak orang. So “Let’s Get The
Beat:Cintaku Adalah ISLAM, ISLAM warnai hidupku”
ROLE MODEL MAHASISWA IDEAL
Mahasiswa adalah sosok generasi muda
yang berada pada jenjang akhir pendidikan yaitu Perguruan Tinggi. Manusia pada
usia – usia mahasiswa ini digambarakan sebagai sosok yang intelek, energik, dan
pemikir. Bisa dikatakan pula bahwa mahasiswa adalah masyarakat intelektual
dalam sebuah Negara. Maka tak salah jika dikatakan di tangan para mahasiswa lah
arah gerak suatu negeri akan dibawa karena mahasiswa adalah pemegang tonggak
estafet suatu negara. Di tangan merekalah terletak tanggung jawab besar yang
nantinya akan mengarahkan, mengubah dan memimpin. Fakta juga telah berbicara,
bahwa mahasiswa telah mengambil peranan dan fungsi penting dalam sejarah suatu Negara
dan perubahan. Hal ini telah terbukti di Indonesia ketika kala itu (1998) mahasiswa
mampu melakukan perubahan dari orde baru menuju reformasi.
Tentu, dengan memahami hal tersebut,
sebuah Negara harus mampu mencetak mahasiswa-mahasiswa berkualitas dan mumpuni,
sehingga tidak ada sejarah hitam yang bahkan akan membawa suatu Negara pada
kehancurannya. Sebuah bangsa tentu menginginkan kehidupan yang sejahtera, adil,
dan ideal dalam negaranya. Hal ini tidak terlepas dari peran para pemimpin dan
bagaimana ia dalam memimpin. Mahasiswa sebagai tonggak estafet yang akan
meneruskan kepemimpinan tersebut harus menjadi generasi yang berkualitas.
Dengan energi berlebih, semangat yang menggebu, intelektualitas serta
bekal-bekal lain yang dimiliki para mahasiwa tentu hal ini menjadi modal cukup,
sehingga harus diarahkan kepada sesuatu yang benar. Jika tidak, maka bukannya
akan membawa Negara kepada kemajuannya namun bahkan akan membawanya pada
kehancuran.
Memahami hal tersebut, maka tidak cukup
jika mahasiswa hanya bergelut pada hal yang berbau akademis saja dengan tanpa
memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dalam hal ini, tidak salah jika dikatakan
bahwa mahasiswa memiliki 4 peran fungi sebagai berikut : 1. Agen of Change, 2. Iron
Stock, 3. Moral Force, dan 4. Social Control.
Keempat peran funsi tersebut tentu harus mampu berjalan sebagaimana
mestinya, namun tidak cukup tanpa adanya suatu standar yang baku dan benar yang
akan mengawal gerak mahasiswa sehingga benar-benar bisa membawa Negaranya pada
kondisi ideal sebagaimana yang diharapkan.
Sebagai seorang Muslim yang mengimani
bahwa kita adalah hamba dari Zat yang memiliki sifat Maha dan tidak ada satupun
makhluk yang mampu menyamai-Nya, -Dialah Allah SWT- serta kita mengimani bahwa
semua akan kembali kepada-Nya, maka tentu kita tidak bisa berjalan dan bergerak
di dunia ini sekehendak kita. Allah SWT telah menciptakan manusia ke dunia ini
lengkap beserta aturan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan, itulah Syari’ah
Islam. Islam tak hanya merupakan ajaran-ajaran dalam hal ritual semata, tetapi
Islam merupakan sebuah ideology yang secara integral mengatur segala urusan
manusia dalam hidup. Hal ini telah terbukti saat sekitar 1 abad yang lalu selama
kurang lebih 2/3 dunia selama 14 Abad lamanya diatur dengan Syari’ah Islam
dalam Institusi yaitu Khilafah. Banyak para Sejarawan baik Muslim maupun non
Muslim mengakui dengan jujur bagaimana gemilangnya masa itu. Masa ketika negara
dipimpin oleh manusia-manusia luar biasa dengan kondisinya yang benar-benar
ideal, dipenuhi dengan keadilan dan kesejahteraan. Tidak ada satupun peradaban yang
mampu menyamai keemasan peradaban Islam kala itu. Prestasi ini menjadi satu
bukti torehan sejarah luar biasa yang telah diukir oleh generasi-generasi
didikan Rasulullah SAW yang dibimbing langsung oleh wahyu Ilahi. Merekalah para
shahabat Nabi, manusia-manusia hebat yang hanya menjadikan Islam sebagai
satu-satunya standar yang mengarahkan gerak dan arah pandang mereka dalam
kehidupan.
Memahami kenyataan tersebut, maka sudah
selayaknya para mahasiswa Muslim mengupayakan dirinya agar mampu seperti sosok para
Shahabat Rasulullah dan menjadikan Islam sebagai ideology yang mengarahkan
gerak dan langkah mereka dalam mengubah, mengarahkan dan memimpin. Islam yang
tidak hanya sebagai pengatur urusan ritual semata, tapi sebagai pengatur semua
sendi kehidupan. Sehingga idealnya dalam setiap teriakannya, para mahasiswa
meneriakkan perubahan kondisi kepada “supaya dijadikannya Islam sebagai
pengatur urusan kehidupan manusia”. Hal ini tentu dengan tidak menafikan amanah
mereka sebagai mahasiswa yang tetap harus menseriusi bidang yang ditekuninya di
Perguruan Tinggi. Tak harus menjadi nomer wahid, tetapi ia harus mampu
mengarahkan potensi yang ia miliki secara individu dengan benar sesuai arah
pandang Islam untuk bisa memberikan manfaat kepada masyarakat walaupun kecil.
Maka, mahasiswa ideal
adalah Mahasiswa Ideologis dan mampu melakukan “something” untuk kemaslahatan
masyarakat walaupun kecil sesuai arah pandang Islam.Keanehan (1)
"Aneh tapi Nyata"
Banyak manusia tidak menyadari kejanggalan-kejanggalan yang banyak terjadi
Suatu siang, lagi duduk santai di taman belakang BAAK, eh tak sengaja dengan iseng ni mata jelalatan, memandang ke sekitar, menoleh sana-sini, samping kanan-kiri, depan belakang. Kemudian berpikir sejenak, dan cling!!! Kudapatkan sebuah inspirasi untuk menulis tentang kejanggalan-kejanggalan tempat hidup manusia saat ini. Tanpak segerombolan temen2 kampus kalo gak salah sih jurusan ****** lagi keroyokan mbacem, entah tugas kuliah apa yang mereka kerjakan. Ahh,,,suatu kebiasaan mahasiswa mayoritas saat ini, entah ilmu apa yang akan kita dapatkan nanti ketika sudah capcus dari kampus tercinta ini, jika ‘adat-istiadat’ ini tak segera dilenyapkan.hehe
Banyak manusia tidak menyadari kejanggalan-kejanggalan yang banyak terjadi
Suatu siang, lagi duduk santai di taman belakang BAAK, eh tak sengaja dengan iseng ni mata jelalatan, memandang ke sekitar, menoleh sana-sini, samping kanan-kiri, depan belakang. Kemudian berpikir sejenak, dan cling!!! Kudapatkan sebuah inspirasi untuk menulis tentang kejanggalan-kejanggalan tempat hidup manusia saat ini. Tanpak segerombolan temen2 kampus kalo gak salah sih jurusan ****** lagi keroyokan mbacem, entah tugas kuliah apa yang mereka kerjakan. Ahh,,,suatu kebiasaan mahasiswa mayoritas saat ini, entah ilmu apa yang akan kita dapatkan nanti ketika sudah capcus dari kampus tercinta ini, jika ‘adat-istiadat’ ini tak segera dilenyapkan.hehe
(BREAK: Pak Muadzdzin dengan merdu mengumandangkan Adzan
Dhuhur di MMI (Masjid Manarul Ilmi). Mereka para cowok gak beranjak, tak ajak??????????:( capcus
SHALATTTT ahhhh :D___)
My "New"
Assalamu'alaikum..
Saudara-saudaraku. Hmmm,,senang sekali kita bisa bertemu dan menjalin ukhuwah islam ini,
dari yang sebelumnya kita tidak saling mengenal, akhirnya sekarang bisa saling
mengenal. Alhamdulillah, sampai saat ini nikmat iman dan islam masih kita
rasakan.
Perkenalkan nama saya lina, saya
berasal dari sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau madura, yaitu KANGEAN.
Pada gak tau kan kangean itu dimana???? yahh lupakan saja lahh (kapan-kapan
kita sambung lagi,,^_^). Saya terlahir dari
kelurga muslim yang begitu menyayangi saya, sejak kecil saya dididik dengan
ilmu agama oleh kedua orang tua. Sehingga, sejak kecil pun saya sudah terbiasa
hidup islami, walaupun seiring dengan berjalannya waktu, rasa keislaman itu
mulai terkikis karena lingkungan yang sudah rusak di sekeliling saya, dan mau
tidak mau saya pun terbawa arus. Dari pergaulan teman-teman di sekitar saya
yang sudah gak karuan, banyaknya pemikiran-pemikiran Barat yang merasuki otak saya
lewat televisi, internet, dan berbagai media yang saat ini sudah mulai
berkembang, membuat saya makin kehilangan jati diri (Islam,red) sebagai seorang
muslim. Kemudian juga mudah terombang-ambing, tidak konsisten dan mudah terbawa
arus globalisasi yang makin carut-marut.
Namun Alhamdulillah, cahaya Islam
itu saya temukan kembali semenjak saya menginjakkan kaki pada hari kedua
registrasi ulang maba di kampus tercinta ini. Saya dipertemukan oleh Allah
dengan seseorang yang mampu membuka mata hati saya menuju terangnya cahaya
islam. Indaaahhh sekali, sampai detik ini saya tidak henti-hentinya mengucap
rasa syukur kepada Allah atas nikmat ini, nikmat terindah yang pernah saya
dapatkan di dunia ini. Apa yang saya dapatkan itu bukanlah suatu paksaan dari
seseorang, entah itu teman, keluarga, ataupun ketakutan-ketakutan saya terhadap
makhluk, tapi ini murni karena pilihan hidup saya yang sudah tidak bisa
dipikirkan dua kali. Subhanallah!!! Walaupun berat pada awalnya untuk
benar-benar menjalankan islam kaffah
(utuh) dalam setiap aktivitas hidup saya, namun ketika
saya mulai menjalankan segala apa yang disyari’atkan islam atas dorongan hati
dan keimanan, sama sekali tidak ada beban dalam diri ini, semuanya terasa
ringan ketika kepasrahan semuanya diserahkan kepada Allah sang pemilik jiwa. Semuanya
bagaikan mutiara-mutiara indah yang meghiasi setiap langkah, setiap aktivitas, setiap
kedipan mata, bahkan setiap tarikan
nafas..
Saudaraku, sungguh
menyesal ketika saya mengingat masa lalu, masa lalu yang begitu buram, penuh
dengan coretan tinta hitam, kusam, lusuh, dan kusut. Sedih mengingat
terlambatnya diri ini bertemu dengan Islam yang sesungguhnya (Kaffah.red),
namun saya jadikan semua itu sebagai pelajaran hidup yang takkan terulang untuk
yang kedua kalinya. Semua itu telah saya tutup rapat, agar jiwa yang lemah ini tidak
kembali masuk dan tersungkur ke dalamnya. Untuk yang kesekian kalinya saya
katakan, bahwa kenikmatan terbesar saya adalah “Dipertemukannya Saya Kembali
Dengan Cahaya Islam”. Walaupun hidup sederhana, tak jadi penguasa, tak punya
banyak materi, toh kita disini hanya singgah sebentar. BETTUULL???^_^,,,
Langganan:
Postingan (Atom)