Social Icons

Pages

Senin, 21 Oktober 2013

ROLE MODEL MAHASISWA IDEAL

     Mahasiswa adalah sosok generasi muda yang berada pada jenjang akhir pendidikan yaitu Perguruan Tinggi. Manusia pada usia – usia mahasiswa ini digambarakan sebagai sosok yang intelek, energik, dan pemikir. Bisa dikatakan pula bahwa mahasiswa adalah masyarakat intelektual dalam sebuah Negara. Maka tak salah jika dikatakan di tangan para mahasiswa lah arah gerak suatu negeri akan dibawa karena mahasiswa adalah pemegang tonggak estafet suatu negara. Di tangan merekalah terletak tanggung jawab besar yang nantinya akan mengarahkan, mengubah dan memimpin. Fakta juga telah berbicara, bahwa mahasiswa telah mengambil peranan dan fungsi penting dalam sejarah suatu Negara dan perubahan. Hal ini telah terbukti di Indonesia ketika kala itu (1998) mahasiswa mampu melakukan perubahan dari orde baru menuju reformasi.
Tentu, dengan memahami hal tersebut, sebuah Negara harus mampu mencetak mahasiswa-mahasiswa berkualitas dan mumpuni, sehingga tidak ada sejarah hitam yang bahkan akan membawa suatu Negara pada kehancurannya. Sebuah bangsa tentu menginginkan kehidupan yang sejahtera, adil, dan ideal dalam negaranya. Hal ini tidak terlepas dari peran para pemimpin dan bagaimana ia dalam memimpin. Mahasiswa sebagai tonggak estafet yang akan meneruskan kepemimpinan tersebut harus menjadi generasi yang berkualitas. Dengan energi berlebih, semangat yang menggebu, intelektualitas serta bekal-bekal lain yang dimiliki para mahasiwa tentu hal ini menjadi modal cukup, sehingga harus diarahkan kepada sesuatu yang benar. Jika tidak, maka bukannya akan membawa Negara kepada kemajuannya namun bahkan akan membawanya pada kehancuran.
Memahami hal tersebut, maka tidak cukup jika mahasiswa hanya bergelut pada hal yang berbau akademis saja dengan tanpa memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dalam hal ini, tidak salah jika dikatakan bahwa mahasiswa memiliki 4 peran fungi sebagai berikut : 1. Agen of Change, 2. Iron Stock, 3. Moral Force, dan 4. Social Control.  Keempat peran funsi tersebut tentu harus mampu berjalan sebagaimana mestinya, namun tidak cukup tanpa adanya suatu standar yang baku dan benar yang akan mengawal gerak mahasiswa sehingga benar-benar bisa membawa Negaranya pada kondisi ideal sebagaimana yang diharapkan.
Sebagai seorang Muslim yang mengimani bahwa kita adalah hamba dari Zat yang memiliki sifat Maha dan tidak ada satupun makhluk yang mampu menyamai-Nya, -Dialah Allah SWT- serta kita mengimani bahwa semua akan kembali kepada-Nya, maka tentu kita tidak bisa berjalan dan bergerak di dunia ini sekehendak kita. Allah SWT telah menciptakan manusia ke dunia ini lengkap beserta aturan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan, itulah Syari’ah Islam. Islam tak hanya merupakan ajaran-ajaran dalam hal ritual semata, tetapi Islam merupakan sebuah ideology yang secara integral mengatur segala urusan manusia dalam hidup. Hal ini telah terbukti saat sekitar 1 abad yang lalu selama kurang lebih 2/3 dunia selama 14 Abad lamanya diatur dengan Syari’ah Islam dalam Institusi yaitu Khilafah. Banyak para Sejarawan baik Muslim maupun non Muslim mengakui dengan jujur bagaimana gemilangnya masa itu. Masa ketika negara dipimpin oleh manusia-manusia luar biasa dengan kondisinya yang benar-benar ideal, dipenuhi dengan keadilan dan kesejahteraan. Tidak ada satupun peradaban yang mampu menyamai keemasan peradaban Islam kala itu. Prestasi ini menjadi satu bukti torehan sejarah luar biasa yang telah diukir oleh generasi-generasi didikan Rasulullah SAW yang dibimbing langsung oleh wahyu Ilahi. Merekalah para shahabat Nabi, manusia-manusia hebat yang hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya standar yang mengarahkan gerak dan arah pandang mereka dalam kehidupan.
Memahami kenyataan tersebut, maka sudah selayaknya para mahasiswa Muslim mengupayakan dirinya agar mampu seperti sosok para Shahabat Rasulullah dan menjadikan Islam sebagai ideology yang mengarahkan gerak dan langkah mereka dalam mengubah, mengarahkan dan memimpin. Islam yang tidak hanya sebagai pengatur urusan ritual semata, tapi sebagai pengatur semua sendi kehidupan. Sehingga idealnya dalam setiap teriakannya, para mahasiswa meneriakkan perubahan kondisi kepada “supaya dijadikannya Islam sebagai pengatur urusan kehidupan manusia”. Hal ini tentu dengan tidak menafikan amanah mereka sebagai mahasiswa yang tetap harus menseriusi bidang yang ditekuninya di Perguruan Tinggi. Tak harus menjadi nomer wahid, tetapi ia harus mampu mengarahkan potensi yang ia miliki secara individu dengan benar sesuai arah pandang Islam untuk bisa memberikan manfaat kepada masyarakat walaupun kecil.
Maka, mahasiswa ideal adalah Mahasiswa Ideologis dan mampu melakukan “something” untuk kemaslahatan masyarakat walaupun kecil sesuai arah pandang Islam.

Keanehan (1)

"Aneh tapi Nyata"
Banyak manusia tidak menyadari kejanggalan-kejanggalan yang banyak terjadi
Suatu siang, lagi duduk santai di taman belakang BAAK, eh tak sengaja dengan iseng ni mata jelalatan, memandang ke sekitar, menoleh sana-sini, samping kanan-kiri, depan belakang. Kemudian berpikir sejenak, dan cling!!! Kudapatkan sebuah inspirasi untuk menulis tentang kejanggalan-kejanggalan tempat hidup manusia saat ini. Tanpak segerombolan temen2 kampus kalo gak salah sih jurusan ****** lagi keroyokan mbacem, entah tugas kuliah apa yang mereka kerjakan. Ahh,,,suatu kebiasaan mahasiswa mayoritas saat ini, entah ilmu apa yang akan kita dapatkan nanti ketika sudah capcus dari kampus tercinta ini, jika ‘adat-istiadat’ ini tak segera dilenyapkan.hehe
(BREAK: Pak Muadzdzin dengan merdu mengumandangkan Adzan Dhuhur di MMI (Masjid Manarul Ilmi). Mereka para cowok gak beranjak, tak ajak??????????:( capcus SHALATTTT ahhhh :D___)

My "New"

Assalamu'alaikum..
       Saudara-saudaraku. Hmmm,,senang sekali kita bisa bertemu dan menjalin ukhuwah islam ini, dari yang sebelumnya kita tidak saling mengenal, akhirnya sekarang bisa saling mengenal. Alhamdulillah, sampai saat ini nikmat iman dan islam masih kita rasakan.
Perkenalkan nama saya lina, saya berasal dari sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau madura, yaitu KANGEAN. Pada gak tau kan kangean itu dimana???? yahh lupakan saja lahh (kapan-kapan kita sambung lagi,,^_^). Saya terlahir dari kelurga muslim yang begitu menyayangi saya, sejak kecil saya dididik dengan ilmu agama oleh kedua orang tua. Sehingga, sejak kecil pun saya sudah terbiasa hidup islami, walaupun seiring dengan berjalannya waktu, rasa keislaman itu mulai terkikis karena lingkungan yang sudah rusak di sekeliling saya, dan mau tidak mau saya pun terbawa arus. Dari pergaulan teman-teman di sekitar saya yang sudah gak karuan, banyaknya pemikiran-pemikiran Barat yang merasuki otak saya lewat televisi, internet, dan berbagai media yang saat ini sudah mulai berkembang, membuat saya makin kehilangan jati diri (Islam,red) sebagai seorang muslim. Kemudian juga mudah terombang-ambing, tidak konsisten dan mudah terbawa arus globalisasi yang makin carut-marut.
Namun Alhamdulillah, cahaya Islam itu saya temukan kembali semenjak saya menginjakkan kaki pada hari kedua registrasi ulang maba di kampus tercinta ini. Saya dipertemukan oleh Allah dengan seseorang yang mampu membuka mata hati saya menuju terangnya cahaya islam. Indaaahhh sekali, sampai detik ini saya tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur kepada Allah atas nikmat ini, nikmat terindah yang pernah saya dapatkan di dunia ini. Apa yang saya dapatkan itu bukanlah suatu paksaan dari seseorang, entah itu teman, keluarga, ataupun ketakutan-ketakutan saya terhadap makhluk, tapi ini murni karena pilihan hidup saya yang sudah tidak bisa dipikirkan dua kali. Subhanallah!!! Walaupun berat pada awalnya untuk benar-benar menjalankan islam kaffah (utuh) dalam setiap aktivitas hidup saya, namun ketika saya mulai menjalankan segala apa yang disyari’atkan islam atas dorongan hati dan keimanan, sama sekali tidak ada beban dalam diri ini, semuanya terasa ringan ketika kepasrahan semuanya diserahkan kepada Allah sang pemilik jiwa. Semuanya bagaikan mutiara-mutiara indah yang meghiasi setiap langkah, setiap aktivitas, setiap kedipan mata, bahkan setiap tarikan nafas.. 
Saudaraku, sungguh menyesal ketika saya mengingat masa lalu, masa lalu yang begitu buram, penuh dengan coretan tinta hitam, kusam, lusuh, dan kusut. Sedih mengingat terlambatnya diri ini bertemu dengan Islam yang sesungguhnya (Kaffah.red), namun saya jadikan semua itu sebagai pelajaran hidup yang takkan terulang untuk yang kedua kalinya. Semua itu telah saya tutup rapat, agar jiwa yang lemah ini tidak kembali masuk dan tersungkur ke dalamnya. Untuk yang kesekian kalinya saya katakan, bahwa kenikmatan terbesar saya adalah “Dipertemukannya Saya Kembali Dengan Cahaya Islam”. Walaupun hidup sederhana, tak jadi penguasa, tak punya banyak materi, toh kita disini hanya singgah sebentar. BETTUULL???^_^,,,

Islam is "Me"

Bismillahirrahmanirrahim..
      Islam,,dulu bagi saya adalah suatu hal yang biasa, hanya sebuah kata yang tak bermakna, agama yang isinya hanya syahadat, shalat, puasa, zakat, haji serta ibadah-ibadah ritual lainnya yang saya sendiri menjalaninya hanya sebagai sebuah kebiasaan, bukan kebutuhan. Semua yang saya jalani dulu, (jujur...!!!) bukanlah atas dorongan hati saya sepenuhnya, bahkan bisa dikatakan, saya tidak tahu bahwa islam itu bukan hanya hubungan dengan Allah mengenai ibadah ritual tadi, ataupun mengenai akhlak-akhlak terpuji dan tercela saja, tapi Subhanallah!!!setelah saya mengenal islam dengan mendalam, ternyata islam itu adalah agama yang universal, yang mengatur seluruh aktivitas hidup kita, dari kita bangun tidur sampe’ kita tidur lagi. Ternyata islam begitu indah, lebih indah dari permata, lebih harum dari kesturi, lebih terang dari bintang-gemintang, lebih lebih dan lebih dari segala keindahan serta kemewahan yang ada di alam semesta ini. Sehingga sekalipun keislaman akan ditukar dengan seluruh isi alam semesta ini, maka itu tidak akan pernah sanggup untuk saya lakukan. 
Subhanallah!!! Hidup,,memang penuh dengan pilihan. Ketika islam menjadi pilihan pun, maka dengan segala konsekuensinya, apapun itu, saya harus sanggup untuk menjalaninya. Sehingga saat ini, semuanya jelas terasa begitu ringan saya jalani, bahkan lebih ringan dari kapas. Dulu, ketika saya beraktivitas, islam selalu saya nomor dua kan, dan hanya akan dibahas ketika dalam pengajian-pengajian saja. Sungguh begitu rendahnya saya dulu dan siapa saja yang mengenyampingkan islam dari segala aktivitas hidupnya ataupun bagi siapa saja yang menjalaninya dengan setengah-setengah. Dan sungguh kawan, tidak akan ada artinya hidup kita di dunia ini, sekaya apapun kita, sekaliber apapun kita, secantik dan se se yang lainnya apapun kita, jika segalanya tidak dilandasi dengan iman dan islam semuanya akan sia-sia. 

Hhhmmmm,,sungguh saat ini, melalui saudara-saudara seiman dan seislam yang saya temui di kampus ini, semua telah merubah jalan hidup saya, jalan pikiran, dan tujuan saya di dunia ini. Indah sekali,,keindahannya tak bisa tuntas diceritakan hanya dalam goresan pena di atas kertas ini saja, namun jika siapa saja mampu melukiskan seluruh keindahan ciptaan Allah di alam semesta ini, maka itulah keindahan yang saya rasakan. Sekarang pun, tujuan saya jadi begitu jelas dan terang di depan mata, tidak hanya ingin menjadi mahasiswa yang cerdas IQ,dan sukses dunia, namun menjadi mahasiswa yang mampu berpikir kritis dan cemerlang dalam bingkaian syari’at Islam. Karena pastinya, ISLAM GUE BANGET dOonkkk,,,!!!!^_^,,

Jumat, 30 Desember 2011

Berbagi_untuk_menginspirasi_Dot_Com_:)

             Pernah kepikiran gak untuk menjadi seorang HERO?? Menjadi Superhero sehebat Spiderman, Superman, secerdas Doraemon, sekuat Satria baja hitam, atau tokoh-tokoh fiksi lainnya?? mereka menjadi orang2 yang dielu-elukan masyarakat karena kebaikannya dan selalu menentramkan kota, dewa penyelamat ketika si jahil lagi beraksi.
Adalah sebuah kisah, dia bukan superman, bukan pula seorang spiderman, tapi dia lahir dan ada di dunia nyata. Sungguh, dia adalah pengembara yang selalu mencari dan mencari. Satu tahun silam dan tahun-tahun sebelumnya adalah masa-masa sulit baginya. Tawanya, kesenangannya, kegembiraannya, tidak pernah ia rasakan lama. Ia terombang-ambing oleh arus, topan, dan badai kehidupan yang tak tentu arah, itulah pandangannya kala itu.
Mungkin karena pusing tidak kunjung menemukan “sesuatu” itu, atau sudah putus asa dengan pengembaraannya, ia pun dengan lantang berteriak pada dunia, bahwa aku adalah aku, masa bodoh dengan dunia. Apapun yang aku lakukan adalah urusannku, karena aku bukan robot yang bisa dikendalikan, atau mesin yang bisa disetir dan tidak mampu berkutik. Lantas, dia pun dengan gagahnya berteriak, bahwa “Aku adalah Diriku”.
Walaupun dengan begitu lantangnya dia berteriak, dengan gagahnya ia menantang, ternyata tubuh ringkihnya kesakitan, tak ada “sesuatu’ itu, “sesuatu” yang benar-benar mampu mengalirkan kekuatan baru untuk merangkak, duduk, berjalan, bahkan berlari.
Percuma dengan semua kesenangan yang dia miliki, segala prestasi yang pernah dia raih, segala kebanggaan yang sering dielukan orang banyak atas dirinya, jika ternyata tubuh itu masih kesakitan. Sakit karena tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mereka yang tak mampu merasakan hal yang sama, lebih sakit lagi karena ia tidak bisa melakukan apa-apa, karena sekalipun kelantangan tadi mengatakan “Aku bukanlah robot dan mesin”, tapi dengan dipaksa dan terpaksa, ia tetap terkendali. Bahkan pernah juga sampai kepikiran mengembara ke institut milik Norman Osborn dan berharap akan digigit oleh serangga beradioaktif miliknya, sehingga ia bisa memiliki kekuatan sehebat Spiderman, tokoh yang ia idolakan kala itu. Tapi toh semua itu fiksi.
Agghhhhhhhh..Ingin lenyap rasanya dari segala kebisingan ini, erangnya suatu waktu.
Sampai pada suatu titik, ketika permata itu menghampiri, merubah keegoisan dan kekerasan hatinya, mengajaknya berpikir menerawang ke dunia yang berbeda menembus batas kesanggupan manusia, maka perubahan radikal dan besar-besaran pun terjadi. Bukan menjadi seorang Superman, Spiderman, atau siapalah tokoh fiksi lainnya yang pernah dia impi-impikan itu, bahkan tak perlu lagi untuk mengkhayal bisa pergi ke institutnya si Norman di Manhattan sana. Namun ia kini menjadi sosok yang cerdas, sederhana tapi tetap tegar, lembut tapi tegas, keras tapi penyayang. Ia menjadi sesosok mawar yang indah, semua ingin memetiknya, namun tak semua orang mampu menggenggamnya, karena tidak semua mampu terlindungi dari tusukan duri-durinya. (Tengkyu 4_si ‘Mutiara’ :))
Saat ini impiannya pun berubah. Bukan untuk menjadi Spiderman, Batman ataupun tokoh fiksi yang serba bohong itu, tapi dia ingin Sehebat Tokoh-tokoh HEBAT yang tak pernah diceritakan jujur oleh sejarah dunia saat ini. Dia ingin sehebat Umar, secerdas Ali, Secerdik Khalid, Sepintar Mus’ab, Seberani Nusaibah Al-Imaroh dan selembut Fatimah.
Hmmmmm,,,berakhir sudah pencarian itu, namun pengembaraan takkan pernah berhenti mendahului aliran darahnya. Begitulah rasanya, ketika pencarian ditemukan dengan berpikir tanpa ada yang memaksa.
Pas lagi berjalan kaki santai menuju taman sigma di Jurusan statistika-ITS,,ada anak kecil tiba-tiba narik jilbabku dari belakang, mungkin umurnya sekitar 3 tahunan. Akupun menoleh, dan bertanya: “ada apa dik??” Senyum manisnya pun mengembang dan berkata: “mba’,,, acu balucan ngenet n baca tulican d blog campean yang belbagi  untuk mengincplilaci dot com itu lo, telus ada yang membuatcu penacalan. “CECUATU” yang ditemukan itu apa ya ??” Aku tertawa sejenak, begitu polosnya, batinku. “Oo,,,anak Celdas, CECUATU itu adalah ISLAM IDEOLOGIS dik, kalo penacalan nanti ikut mba’ ngaji ya..!!” Oce mba’,ujarnya. :)
INTERMEZO: Ehh,,apa jadinya ya kalo Su-pEr-MEN  jdi ustadz???  Atau Spidermen jadi da’i???? Hehe kemungkinan seluruh penduduk Amerika insyaf daaahhhh :D

Selasa, 13 Desember 2011

Kisah Masuk Islam-nya Umar bin Khattab RA

Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.
Sampailah kemudian suatu hari, beliau berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah SAW. Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-‘Adawi seraya bertanya:
“Hendak kemana engkau ya Umar ?”,
“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.
“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”.
“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”. Tanya Umar.
“Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.
Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al-Quran.
Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :
“Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,
“Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka
“Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram
“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, jawab ipar Umar.
Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera memba-ngunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkata-lah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah:
“Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”
Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan ber-darah, timbul penyesalan dan rasa malu di hati Umar. Lalu dia meminta lembaran al-Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al-Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya.
Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca : Bismillahirrahmanirrahim. Kemudian dia berkomentar:
“Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”
Kemudian beliau terus membaca: طه  hingga ayat yang artinya:
 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14)
Beliau berkata: “Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad”.
Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, saya berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.
Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang berada di dalamnya berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah SAW, dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya:
“Ada apa ?”.
“Umar” Jawab mereka.
“Umar ?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.
Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata: “Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.
Maka berkatalah Umar: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah. Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil-Haram.
Masuk Islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin. Sejak itulah umar menjadi pejuang islam yang tangguh dalam membela islam.

Perubahan,,.

Seseorang itu berubah karena PEMIKIRAN'nya...tentang alam semesta, manusia dan kehidupan beserta apa-apa yang ada sebelumnya dan sesudahnya serta kaitan antara kehidupan sebelum dan sesudahnya.
Pemikiran itulah yg nantinya akan merubah pemahamannya tentang hidup dan secara otomatis akan merubah tingkah lakunya dalam hidup.
Para kapitalis memandang bahwasanya segala sesuatu dipandang atas dasar materi (uang). Seseorang dihormati karena uangnya, disanjug karena kedudukannya, dielu-elukan karena kekayaannya, sehingga hidupnya ia habiskan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Mereka juga memandang bahwa tidak ada kaitan antara urusan agama dengan kehidupan bermu'amalah, inilah yang kemudian dikenal dengan pemisahan antara agama dengan kehidupan-atau lebih dikenal dengan "SEKULARISME"-.(Penyakit akut-back sound):(
Para komunis memandang bahwasanya kehidupan ini kekal, bahwa materi bersifat kekal,ia tidak berawal dan tidak berakhir (Fisika SMA poenya "Kekekalan Energi Teory)-menyesatkan:back sound)". Berdasarkan pandangan ini, maka jelas sekali Komonis mengingkari adanya pencipta, karena ia mendasarkan pemikirannya pada teori "Dialektika Materialis dan Historis Materialis", materi adalah sumber segala sesuatu. (inipun,,bahaaayyyaa:back sound):(
Berbeda dengan ISLAM,,"Islam memandang bahwaanya segala sesuatu datangnya dari Pencipta Yang Maha Segalanya,yaitu ALLAH SWT..Allah menciptakan ciptaan-Nya sekaligus juga memberikan aturan agar ciptaan itu tidak rusak dan agar tidak berbuat kerusakan, semua aturan itu ada di dalam AL-Qur'an. Islam juga memandang bahwa segaaalaaa ciptaan akan kembali kepada penciptanya kelak di akhirat, sehingga semua yang dilakukan manusia dalam hidup ini akan dinilai, apakah itu akan bernilai pahala atau dosa, ia akan bernilai pahala jika sesuai dengan aturan pencipta dan akan diberi balasan surga, sebaliknya ia akan bernilai dosa jika tidaka sesuai denga aturan pencipta dan akan diberi balasan Neraka."
Sungguh Islam itu unik dan Khas kawann,,,:D So, ayok kita mengkaji ISLAM,,jangan katakan dirimu gaul jika belum NGAJI.."
gak ngaji gak gaul...:D
 

Sample text

Sample Text

Taqwa (Ali bin Abi Thalib)

1. Al-khaufu min Al-jalil
2. Al-'amalu bi at-tanzil
3. Al-isti'dadu li yaum ar-rohil
4. Al-qana'atu bi Al-qalil